Beberapa tahun terakhir, photobooth kembali merebut perhatian anak muda. Dari tren kamera polaroid, disposable camera, hingga kini bilik foto instan yang aesthetic—semuanya menandakan satu hal: kebutuhan manusia untuk mengabadikan momen tidak pernah padam.
Di tengah era digital yang serba instan, photobooth justru menawarkan sesuatu yang berbeda: proses menunggu. Ada jeda kecil yang membuat hasil foto terasa lebih berharga. Tidak heran kalau photobooth di Blok M sering jadi destinasi tambahan saat nongkrong.
Blok M sendiri menangkap tren ini dengan cepat. Kawasan yang dulu dikenal dengan terminal, pusat perbelanjaan, dan spot kuliner, kini menjelma menjadi ruang kreatif dengan photobooth sebagai salah satu daya tarik baru.
Kawasan yang Selalu Berevolusi
Blok M punya reputasi unik; selalu bisa beradaptasi dengan generasi yang datang silih berganti. Jika pada era 90-an hingga awal 2000-an kawasan ini identik dengan belanja murah, kini wajahnya berubah.
Deretan kafe, bar, restoran Jepang, hingga toko baju vintage tumbuh berdampingan. Street art menghiasi beberapa sudut jalan, sementara ruang komunitas dan galeri seni bermunculan. Dengan atmosfer artsy seperti ini, kehadiran photobooth terasa sangat pas.
Photobooth tidak sekadar bilik foto. Ia menjadi simbol bahwa Blok M adalah ruang ekspresi bagi anak muda, tempat nostalgia dipadukan dengan gaya hidup modern.
Photobooth sebagai Ritual Nongkrong
Bagi generasi muda Jakarta, nongkrong kini bukan hanya soal makan atau minum. Ada elemen dokumentasi yang tak terpisahkan.
Photobooth di Blok M pun menjadi semacam ritual wajib. Selesai menikmati kopi atau berjalan-jalan di Melawai, mampir ke photobooth untuk mencetak kenangan. Dalam bilik kecil itu, tawa, ekspresi konyol, atau gaya candid menjadi bagian dari cerita.
Lebih dari sekadar cetakan foto, yang diingat justru pengalaman singkat: berebut tempat dalam ruang sempit, bersiap sebelum lampu kilat menyala, hingga hasil strip foto hitam-putih yang terasa personal. Banyak orang bahkan menjadikan hasil cetakan ini sebagai suvenir pribadi: ditempel di dinding kamar, diselipkan di dompet, atau dijadikan hadiah kecil untuk orang tersayang.
Nostalgia dalam Bungkusan Modern
Photobooth menawarkan rasa retro yang memikat. Generasi 90-an mungkin mengingat pengalaman serupa di mal atau taman hiburan, tapi kini photobooth hadir dengan sentuhan baru: desain aesthetic, tirai berwarna pastel, hingga opsi filter monokrom.
Yang menarik, hasil cetakannya tetap sederhana. Strip foto kecil dengan empat pose. Justru kesederhanaan inilah yang memberi nilai lebih. Di era filter media sosial yang serba mulus, hasil photobooth terasa jujur dan apa adanya.
Tidak sedikit pula yang mengunggah hasil cetakan ke Instagram atau TikTok. Kontras antara teknologi lama dan platform modern justru membuat konten terasa unik.
Tips Berburu Photobooth di Blok M
Kalau kamu ingin mencoba sensasi photobooth-photobooth di Blok M, berikut beberapa tips sederhana:
- Datang lebih pagi, suasana Blok M masih sepi namun tetap hidup, dan antrean photobooth biasanya lebih sedikit.
- Pilih outfit sesuai tema: monokrom, vintage, atau colorful akan memberi hasil cetakan yang kece.
- Ajak teman atau pasangan: photobooth lebih seru dinikmati bersama orang-orang terdekat.
- Siapkan pose spontan: jangan terlalu kaku, ekspresi natural justru memberi hasil terbaik.
- Simpan softcopy: selain dicetak, file digital bisa jadi koleksi pribadi.
Photobooth tidak hanya hadir sebagai pelengkap gaya hidup, tetapi juga sebagai simbol kenangan. Dengan persiapan kecil ini, pengalaman photobooth kamu bisa lebih berkesan dengan orang-orang tersayang.
1 Komentar
Lumayan nih tipsnya pas ntar main ke Blok M 😌
BalasHapus