(Ilustrasi: Freepik)
Beranjak dewasa, Via semakin tersadar; anak kecil memang benar-benar lugu. Dulu ia sempat berpikir bahwa semua orang memiliki hubungan yang baik dengan keluarga besarnya. Termakan stigma yang dibangun pada film-film yang ia tonton semasa kecil, melihat kebersamaan keluarga besar di sana membuatnya berpikir bahwa semua orang merasakan hal yang sama.
Namun, hingga usianya menginjak 21 tahun, ia belum pernah merasakan kebersamaan ‘keluarga besar’ seperti yang ia lihat semasa kecil itu. Boro-boro berkumpul di tiap akhir pekan, saat hari-hari besar seperti Idul Fitri atau Idul Adha pun tak pernah ada kebersamaan yang tercipta. Sepanjang Via menjalani hidupnya, hanya ada Ayah dan Mama yang senantiasa membersamai.
Saat itu menuju sore. Via masih berada di kampus setelah berakhirnya perkuliahan terakhirku pada hari itu. Setelah menyantap makan siang yang agak telat itu, Via mendapatkan notifikasi telepon dari Mama.
“Nak, ke rumah sakit sekarang ya,” suaranya terbata di sana, “Ayah masuk rumah sakit.” Seketika Via bergeming, tiba-tiba pikiranya kalut. Tanpa pikir panjang ia memesan ojek online—ketika saat itu ia seharusnya pulang menggunakan angkutan umum.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, kepalanya berisik. Saat itu ayah memang tidak dalam kondisi yang sehat, tetapi tidak mengira akan separah itu hingga dilarikan ke rumah sakit. Sesampainya di sana akhirnya ia tahu, paru-paru Ayah terendam cairan sehingga tidak bisa bernapas dengan baik.
Ayah harus dirawat untuk melaksanakan perawatan intensif. Terbaring lemah di atas ranjang dengan alat-alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya membuat hatiku sakit. Saat itu hanya ada ia dan Mama yang mengurusi segala keperluan Ayah selama di rumah sakit.
Hari-hari berlalu, tetap hanya ada ia dan Mama yang secara konsisten bergantian menjaga Ayah di rumah sakit. Hampir satu minggu berlalu di rumah sakit, tidak ada satu pun pihak keluarga yang bersimpati dengan keadaan mereka. Datang pun hanya formalitas menjenguk 10 menit layaknya teman.
Keluarga dari Mama terlalu sulit menjangkau keberadaan mereka karena berada di kota yang berbeda, sedangkan keluarga dari Ayah sendiri terlalu tidak peduli dengan keadaan ini. Mendukung secara moral saja tidak, apalagi secara materi, semua hanya Via dan Mama yang memikirkan. Sejak hari itu, ia semakin tersadar hidup memang tidak serealistis di film-film.
Meskipun tak memiliki support system yang utuh layaknya keluarga lain, Via bangga dengan keluarga kecilnya. Saat ini, Ayah sudah kembali sehat seperti sedia kala dan ini terjadi berkat ia dan Mama yang saling menguatkan untuk tetap bertahan walau saat itu hanya ada ia dan Mamanya yang berada di sana. Kekurangan ini bukan penyesalan untuknya, melainkan menjadi refleksi diri bahwa di tiap penghujung cerita, hanya mereka yang tersisa di cerita mereka sendiri.
0 Komentar